Sistem & Manajemen Agribisnis Peternakan
Agribisnis pada mulanya diartikan secara sempit, yaitu
menyangkut subsektor masukan (input) dan subsektor produksi (on farm).
Pada perkembangan selanjutnya agribisnis didefinisikan secara luas dan tidak hanya menyangkut subsektor masukan dan produksi tetapi juga menyangkut subsektor pascaproduksi, meliputi pemrosesan, penyebaran, dan penjualan produk.
Pada perkembangan selanjutnya agribisnis didefinisikan secara luas dan tidak hanya menyangkut subsektor masukan dan produksi tetapi juga menyangkut subsektor pascaproduksi, meliputi pemrosesan, penyebaran, dan penjualan produk.
Dengan demikian agribisnis peternakan merupakan kegiatan
usaha yang terkait dengan subsektor peternakan, mulai dari penyediaan sarana
produksi, proses produksi (budidaya), penanganan pasca panen, pengolahan,
sampai pemasaran produk ke konsumen.
Dalam subsektor peternakan, subsistem hulu meliputi industri
bibit ternak, pakan ternak, obat-obatan dan vaksin ternak, serta alat-alat dan
mesin peternakan (alsinnak). Berdasarkan jenis outputnya, subsistem usahatani
dapat digolongkan menjadi usaha ternak perah, usaha ternak potong/pedaging,
usaha ayam petelur, dan lain-lain.
Subsistem agribisnis hilir meliputi usaha pemotongan hewan, industry susu, industry pengalengan daging, industri telur asin, industri kulit, restaurant dan lain sebagainya. Subsistem institusi penunjang meliputi lembaga penelitian pemerintah, penyuluhan, lembaga keuangan, kesehatan hewan dan lain-lain.
Di dalam sistem agribisnis peternakan, subsistem agribisnis hulu dan hilir lebih banyak memperoleh nilai tambah dibandingkan dengan subsistem budidaya (usahatani). Bandingkan pendapatan peternak sapi perah dengan pabrik pengolahan susu, peternak sapi potong dengan pabrik pengolahan sosis atau perusahaan pengalengan daging, peternak itik dengan perusahaan telur asin, dan seterusnya. Pendapatan petani dari usahatani hanya 30 % sementara usaha di luar usahataninya (hulu atau hilir) mencapai 70 %. Namun subsistem budidaya merupakan subsistem utama karena produk-produk peternakan yang digunakan oleh konsumen pada dasarnya dihasilkan oleh subsistem ini dan tanpa subsistem ini tidak mungkin ada subsistem agribisnis hulu dan hilir.
Subsistem agribisnis hilir meliputi usaha pemotongan hewan, industry susu, industry pengalengan daging, industri telur asin, industri kulit, restaurant dan lain sebagainya. Subsistem institusi penunjang meliputi lembaga penelitian pemerintah, penyuluhan, lembaga keuangan, kesehatan hewan dan lain-lain.
Di dalam sistem agribisnis peternakan, subsistem agribisnis hulu dan hilir lebih banyak memperoleh nilai tambah dibandingkan dengan subsistem budidaya (usahatani). Bandingkan pendapatan peternak sapi perah dengan pabrik pengolahan susu, peternak sapi potong dengan pabrik pengolahan sosis atau perusahaan pengalengan daging, peternak itik dengan perusahaan telur asin, dan seterusnya. Pendapatan petani dari usahatani hanya 30 % sementara usaha di luar usahataninya (hulu atau hilir) mencapai 70 %. Namun subsistem budidaya merupakan subsistem utama karena produk-produk peternakan yang digunakan oleh konsumen pada dasarnya dihasilkan oleh subsistem ini dan tanpa subsistem ini tidak mungkin ada subsistem agribisnis hulu dan hilir.
Berikut adalah contoh dari Sistem Agribisnis Usaha Ternak Ayam Ras Petelur (Studi Kasus
Cv.Mulawarman Farm) Di Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu
Subsektor peternakan merupakan penghasil produk-produk yang
dibutuhkan oleh industri pangan. Salah satu usaha peternakan yang sangat
berpotensi untuk dikembangkan adalah usaha peternakan ayam ras petelur.
Perkembangan usaha ternak ayam ras petelur semakin berkembang seiring dengan
semakin tingginya permintaan telur diakibatkan semakin bertambahnya jumlah
penduduk. Sistem agribisnis dapat diartikan sebagai keseluruhan aktivitas mulai
dari pengadaan sampai penyaluran sarana produksi sampai pemasaran produkproduk
yang dihasilkan dari usaha tani tersebut.
Sistem agribisnis memiliki
keterkaitan yang saling mempengaruhi antar subsistemnya yang terdiri dari 37
subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem produksi atau budidaya,
subsistem pemasaran dan subsitem jasa layanan pendukung. Subsistem pengadaan
sarana produksi menyangkut tentang bagaimana usaha ternak CV. Mulawarman Farm
memperoleh faktor-faktor produksinya serta biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh faktor produksi tersebut.
Subsistem produksi atau menjelaskan tentang
bagaimana kemampuan usaha ternak tersebut membudidayakan ternak dan mengelola
faktor produksinya untuk menghasilkan produk yang diinginkan baik secara
kualitas maupun kuantitas. Sama halnya dengan usaha-usaha lain, perusahaan
ternak ayam ras petelur CV.Mulawarman Farm menginginkan usaha yang dikelolanya
memperoleh keuntungan yang tinggi. Analisis finansial perlu dilakukan agar
pihak pengelola mengetahui secara persis berapa besaran biaya yang dikeluarkan
dan keuntungan yang didapatkan meskipun terdapat perubahan besaran biaya yang
dikeluarkan serta kelayakan usaha yang dijalankan apalagi usaha ternak ini akan
melakukan pengembangan populasi ayam.
Apabila semakin tinggi keuntungan yang
diperoleh maka semakin layak usaha tersebut untuk terus dikembangkan. Subsistem
pemasaran menjelaskan tentang bagaimana produk yang dihasilkan tersebut sampai
ke konsumen, lembaga pemasaran apa saja yang terlibat, bauran pemasaran yang
diterapkan oleh perusahaan ternak ayam ras petelur CV.Mulawarman Farm serta
subsistem jasa layanan pendukung yang berperan terhadap keberlangsungan atau
berkembangya perusahaan ternak ini. 38 Secara lebih jelasnya, kerangka
pemikiran sistem agribisnis usaha ternak ayam ras petelur CV.Mulawarman Farm
Sumber :
Buku Ekonomi Agribisnis Peternakan (Teori dan
Aplikasinya) oleh Prof. Soekardono, Guru Besar Fapet Universitas Mataram.
Andika, Pram. 2018. SISTEM AGRIBISNIS USAHA TERNAK AYAM RAS PETELUR
(Studi Kasus CV.Mulawarman Farm) DI KECAMATAN GADINGREJO
KABUPATEN PRINGSEWU. Skripsi. FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG.

Comments
Post a Comment