Skip to main content

ANALISIS RISIKO USAHA AYAM PEDAGING di KABUPATEN MOJOKERTO


Ayam pedaging memiliki peran penting dalam sub sektor peternakan karena memiliki potensi yang besar dengan adanya peningkatan konsumsi daging ayam tiap tahunnya namun memiliki masalah yang komplek dari internal maupun eksternal sehingga menimbulkan risiko dan ketidakpastian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sumber Penyebab risiko, menghitung besar risiko, dan menyusun strategi yang dapat diterapkan untuk mengendalikan sumber risiko yang paling menentukan dalam usaha ayam pedaging di Kabupaten Mojokerto.
Usaha ayam pedaging memiliki peran penting dalam sub sektor peternakan karena memiliki potensi yang besar dengan adanya peningkatan konsumsi daging ayam tiap tahunnya namun memiliki masalah yang komplek dari internal maupun eksternal sehingga menimbulkan risiko dan ketidakpastian, dengan demikian perlu adanya penelitian mencakup sumber penyebab risiko, besar risiko yang dihadapi, dan strategi yang dapat diterapkan untuk mengendalikan risiko dalam usaha ayam pedaging di Kabupaten Mojokerto.
- Pada penelitian ini, sumber risiko yang teridentifikasi terbagi menjadi tiga yaitu risiko produksi, risiko pemasaran dan risiko keuangan.

1. Risiko produksi
Faktor input teridentifikasi cenderungnya penggunaan obat kimia berpotensi penurunan output produksi. Obat atau vaksin yang digunakan peternak di daerah penelitian cenderung menggunakan obat kimia yang memiliki kelemahan produktivitas belum maksimal hal ini berdasarkan hasil produksi peternak dilapang yang menggunakan obat kimia sekaligus obat organik yang berimbang dapat menekan angka kematian ayam. Faktor sumber daya yang diidentifikasi yaitu sumber daya alat yang masih konvensional. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tidak adanya alat ukur suhu udara kandang, dan pengatur suhu di dalam kandang secara otomatis. Sehingga membuat tingkat kematian ayam lebih tinggi karena sistem bangunan kandang terbuka yang digunakan oleh peternak membuat kondisi di dalam kandang kurang sesuai dengan perubahan cuaca yang cepat sehingga ayam lebih mudah terkena penyakit yang berdampak pada produktivitas yang tidak maksimal.

2. Risiko pemasaran
2.       Sumber risiko yang diidentifikasi pada risiko pemasaran ada tiga faktor yaitu produk, pasar, dan kemitraan.
Tidak adanya penambahan jumlah ayam maka hasil nantinya pada produk siap jual juga menurun dari jumlah asal DOC, dan produk yang dijual dalam bentuk hidup membuat peternak minim dalam hal nilai tambah sehingga pendapatan pun menjadi rendah. Dalam faktor pasar, pemasaran produk dilakukan sendiri-sendiri oleh peternak sehingga menyebabkan rendahnya posisi tawar peternak dalam menentukan harga produknya, menurut simatupang (1995) struktur agribisnis petemakan di Indonesia dapat digolongkan sebagai tipe dispersal, yang dicirikan tidak adanya hubungan organisasi fungsional antara setiap tingkatan usaha. Harga sebagian besar produk pun ditentukan oleh mitra secara kontrak yang dirasa oleh peternak minim keuntungan. Faktor kemitraan yang menargetkan indeks performan (IP) membuat peternak apabila ingin mendapatkan keuntungan lebih harus mengejar indeks performan tersebut. Jika tidak memenuhi peternak hanya mendapatkan keuntugan yang minim. Dilain pihak pendapatan yang diperoleh peternak kontrak dari pelaksanaan contract farming ternyata lebih rendah dibandingkan dengan peternak nonkontrak (Sarwanto, 2004; Yulianti, 2012). Namun di sisi lain mitra menjamin pemasaran seluruh produk peternak binaanya.

3. Risiko keuangan
Sumber risiko yang diidentifikasi pada risiko keuangan ada tiga faktor yaitu sumber dana, biaya, dan pendapatan
Sumber risiko keuangan yang teridentifikasi pada faktor sumber dana adalah seringnya peternak dihadapkan pada keterbatasan modal karena hanya mengandalkan modal pribadi. Selain itu, adanya rasa takut peternak dalam memanfaatkan pinjaman modal dari perbankan menambah permasalahan keterbatasan modal.
Faktor biaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya keuntungan yang diperoleh peternak. Berdasarkan hasil penelitian, biaya yang dikeluarkan peternak masih relatif tinggi, hal ini disebabkan oleh tingginya harga saprodi, dan harga input produksi.


SUMBER : 
Befrian, dkk. (2018). Analisis Risiko Usaha Ayam Pedaging. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Vol.18(1): 77-92.


Comments

Popular posts from this blog

#2 GALI IDE USAHA MU

Hayyy temen-temen ehehe, ada bab selanjutnya nih yang bakal aku bahas. Beberapa analisa yang dapat mempermudah kalian untuk menjadi pengusaha muda, mandiri, dan sukses. Di simak lagi yaaa! Pertama. Analisa Pros-Cons (Aspek Positif dan Aspek Negatif) Yang dimaksud yaitu suatu cara untuk menilai apakah ide usaha yang diusulkan layak untuk dijalankan atau tidak. Caranya adalah dengan membandingkan dari aspek positif dan aspek negatifnya. Analisa ini digunakan untuk menentukan satu ide usaha dari beberapa ide dan akan kita nilai mana yang paling baik. Dalam memilah aspek positif dan negatifnya kita perlu mendata beberapa informasi yang ada, antara lain: 1) Keahlian yang dimiliki pengusaha untuk menjalankan usaha, artinya ada berbagai hal yang dikuasai untuk mendukung usaha yang dijalankan. Contohnya kemampuan memasak, menggambar, mengoperasikan komputer, dan atau keterampilan lainnya. 2) Ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan, artinya pengusaha harus mengetahui bahan baku yan...
Sistem & Manajemen Agribisnis Peternakan Agribisnis pada mulanya diartikan secara sempit, yaitu menyangkut subsektor masukan (input) dan subsektor produksi (on farm). Pada perkembangan selanjutnya agribisnis didefinisikan secara luas dan tidak hanya menyangkut subsektor masukan dan produksi tetapi juga menyangkut subsektor pascaproduksi, meliputi pemrosesan, penyebaran, dan penjualan produk. Dengan demikian agribisnis peternakan merupakan kegiatan usaha yang terkait dengan subsektor peternakan, mulai dari penyediaan sarana produksi, proses produksi (budidaya), penanganan pasca panen, pengolahan, sampai pemasaran produk ke konsumen. Dalam subsektor peternakan, subsistem hulu meliputi industri bibit ternak, pakan ternak, obat-obatan dan vaksin ternak, serta alat-alat dan mesin peternakan (alsinnak). Berdasarkan jenis outputnya, subsistem usahatani dapat digolongkan menjadi usaha ternak perah, usaha ternak potong/pedaging, usaha ayam petelur, dan lain-lain. Subsist...

Peran Agribisnis dalam Perekonomian Nasional

Kontribusi sektor agribisnis dalam perekonomian dapat diukur dengan berbagai indikator seperti kontribusinya dalam pembentukan GDP, kesempatan kerja, dan perdagangan internasional. Disamping itu peranannya juga dapat dilihat dari kontribusinya dalam pembangunan ekonomi daerah, ketahanan pangan nasional dan pelestarian lingkungan hidup.  Peran tersebut  diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 17 tahun 2007 tentang RPJPN tahun 2005-2025, menyatakan bahwa visi pembangunan nasional tahun 2005-2025 adalah: Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur. Untuk mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut ditempuh melalui delapan misi yang mencakup: (1) mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila, (2) mewujudkan bangsa yang berdaya saing, (3) mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum, (4) mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu, (5) mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan, (6) mewujudkan Ind...