Skip to main content

REVIEW Jurnal tentang Rantai Pasok Peternakan

Judul jurnal 1 yaitu “Analisis Rantai Pasok Daging Sapi dari Rumah Pemotongan Hewan Ciawitali sampai Konsumen Akhir di Kota Garut
Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan komoditas ekonomi yang mempunyai nilai sangat strategis. Pemenuhan daging sapi di Kabupaten Garut tidak tergantung pada pasokan daging sapi impor, hal tersebut terlihat dari data pada tahun 2012 bahwa pasokan daging sapi lokal sebanyak 100% (2.097.236 kg) (Dinas Peternakan Jawa Barat, 2014)
Distribusi daging sapi yang terjadi di berbagai Rumah Potong Hewan mendorong para pelaku distribusi seperti pedagang besar dan pedagang pengecer selaku perantara yang berhubungan langsung dengan konsumen melakukan strategi pemasaran dalam melakukan kegiatannya.
Rantai pasokan daging sapi harus memperhatikan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kelancaran proses distribusi hingga ke tangan konsumen akhir. Pemasaran dan distribusi daging sapi membutuhkan lembaga pemasaran yang bekerja secara efektif, kerena daging sapi memiliki sifat produk yang mudah rusak. Penyaluran daging sapi dari tangan produsen ke konsumen memerlukan proses dan tindakan-tindakan yang khusus. Kegiatan ini dilakukan untuk menciptakan, menjaga dan meningkatkan nilai serta manfaatnya. Kesalahan dalam memilih saluran distribusi dapat memperlambat bahkan dapat terjadi kemacetan usaha penyaluran barang dan jasa tersebut dari produsen ke konsumen. Panjangnya rantai pasok pada produk pertanian jika tidak dikelola secara baik bisa menyebabkan biaya yang tinggi, baik untuk biaya transaksi, biaya transportasi, biaya penyimpanan, biaya pengemasan, biaya kerusakan dan keuntungan masing-masing pelaku dan sebagainya.
Faktor penting dalam sistem penjualan adalah margin dan struktur biaya tataniaga yang terjadi. Margin tataniaga perlu dianalisis untuk mengetahui biaya, keuntungan dan harga jual ternak tersebut. Struktur biaya atau cost structure adalah proporsi relatif biaya tetap, variabel dan biaya campuran yang ditemukan dalam sebuah organisasi usaha (Mulyadi, 2005).
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah pelaku pemasaran dalam rantai pasok daging sapi sebagai lembaga tataniaga yang berperan dalam menyalurkan daging sapi sampai ke konsumen akhir. Para pelaku dalam penelitian adalah pedagang besar daging sapi, pedagang pengecer daging sapi dan konsumen daging sapi.

Berdasarkan ilustrasi di atas, pola rantai pasok daging sapi di Kabupaten Garut diawali dari peternak besar (feedlot) menuju peternak penggemukan atau langsung dijual ke penjual besar. Sebanyak 75% pedagang besar mendapat pasokan sapi dari peternak penggemukkan dengan dan 25% lainnya diambil langsung dari peternak beasr (feedlot). Feedlot hanya berkonsentrasi pada pembibitan sehingga untuk mendapatkan sapi dalam kondisi siap potong, pedagang besar lebih memilih membeli kepada petrenak penggemukkan. Pedagang besar kemudian menjual atau mengirimkan sapi siap potong ke RPH Ciawitali, ada pula sebagian pedagang besar yang melakukan proses pemotongan sendiri dengan menyewa petugas pemotongan yang ada di RPH Ciawitali. Hal ini dikarnakan kapasitas RPH Ciawitali yang kecil sehingga kurang bisa memberikan pelayanan yang maksimal untuk proses pemotongan hewan ternak.

Judul jurnal 2 yaitu “Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Daging Sapi dari Rumah Pemotongan Hewan sampai Konsumen di Kota Surakarta

Pada jurnal tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi pada rantai pasokan daging sapi di Kota Surakarta; (2) menganalisis tingkat efisiensi pemasaran pada rantai pasokan daging sapi segar di Kota Surakarta; dan (3) menganalisis nilai tambah pada proses pemotongan sapi potong di Kota Surakarta.
Pola aliran dalam rantai pasokan daging sapi menunjukkan ada tiga aliran yang ada dalam pola tersebut yaitu berupa aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi. Aliran produk mengalir dari hulu hingga hilir yaitu dari jagal hingga konsumen daging sapi. Aliran keuangan mengalir dari hilir ke hulu yaitu dari konsumen akhir daging sapi ke jagal. Aliran informasi mengalir pada mata rantai secara timbal balik.

Dapat dilihat dari gambar tersebut bahwa rdapat tiga macam aliran yang menggambarkan rantai pasok daging sapi di Kota Surakarta. Aliran Pertama adalah aliran produk (barang) yang mengalir dari hulu ke hilir, kedua adalah aliran finansial (uang) yang mengalir dari hilir ke hulu, dan yang ketiga adalah aliran informasi yang dapat mengalir dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Struktur rantai pasok melibatkan anggota rantai pasok, setiap anggota rantai pasok melakukan fungsi-fungi pemasaran. Anggota rantai pasok yang dimaksud adalah para pelaku yang tergabung dan memiliki peran didalam rantai pasok daging sapi.

Judul jurnal 3 yaitu “Manajemen Rantai Pasok Komoditas Ternak dan Daging Sapi

Dalam penelitian peneliti menjelaskan bahwa pembuatan jurnal ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kelayakan usaha ternak sapi pada berbagai pola usaha; (2) menganalisis saluran rantai pasok ternak dan daging sapi; dan (3) menganalisis kinerja manajemen rantai pasok produk daging sapi.

Lokasi penelitian memenuhi syarat sebagai berikut: (1) wilayah sentra populasi serta eksistensi program pengembangan sapi; (2) wilayah sentra produksi hijauan pakan ternak dan hasil samping hasil pertanian, serta limbah industri pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk pakan; (3) wilayah yang mempunyai fasilitas transportasi yang mudah dan dekat ke wilayah konsumsi utama yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat; dan (4) terdapat kelembagaan kelompok ternak sapi potong dan atau kemitraan usaha sapi dengan pelaku usaha lain.

Metode pengambilan contoh Pasar Hewan, Rumah Potong Hewan (RPH), dan industri kuliner dilakukan secara purposive. Pasar Hewan yang dipilih sebagai contoh adalah pasar hewan yang paling banyak digunakan untuk melakukan transaksi jual beli ternak sapi. Rumah Potong Hewan (RPH) yang dipilih sebagai contoh diutamakan RPH yang telah memiliki fasilitas lengkap sejak dari proses pemotongan hingga fasilitas pembekuan daging. Hal itu dimaksudkan agar dapat melihat peran RPH tidak sebatas melakukan proses mengubah ternak menjadi daging, tetapi juga mengubah daging segar menjadi daging beku dan proses pengaturan stok yang terkait dalam kegiatan manajemen rantai pasok. Teknik snowball sampling digunakan untuk pengambilan contoh mata rantai yang terlibat dalam rantai pasokan daging sapi, seperti peternak, pedagang sapi, distributor daging, pedagang pengecer, industri pengolahan daging, dan industri kuliner.

Kebijakan pemerintah dalam membina rantai pasok komoditas ternak dan daging sapi dinilai masih bersifat parsial yang direfleksikan beberapa hal pokok sebagai berikut: (1) penyediaan sapi bakalan masih terbatas jumlah, kualitas belum sesuai, dan kontinyuitas pasokan belum terjamin; (2) teknik budi daya beragam dan belum memenuhi standar untuk menghasilkan produk daging berkualitas; (3) upaya membentuk asosiasi peternak sapi potong belum terhubungkan dengan pengguna produk daging sapi secara baik; (4) upaya membangun rantai pasok dalam satu manajemen melibatkan berbagai instansi pemerintah dan swasta memerlukan payung hukum dan memerlukan peraturan turunannya; (5) upaya menyiapkan rantai dingin produk daging sapi dari sentra produksi pada kasus di Salatiga ke sentra konsumsi utama di Bekasi, Jawa Barat, Jakarta dan Banten terhambat karena produk lokal kalah bersaing dalam harga dengan daging impor; dan (6) upaya melibatkan importir dalam membangun rantai dingin produk daging sapi lokal masih terkendala dengan keterbatasan stok sapi lokal dan daging sapi, serta harga yang lebih mahal.

SUMBER :
Moh. A. Syakur, S. H. (2017). Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Daging Sapi dari Rumah Pemotongan Hewan. Sains Peternakan, Vol. 15 (2): 52-58.

Saptana, N. I. (2017). MANAJEMEN RANTAI PASOK KOMODITAS TERNAK DAN DAGING SAPI. Analisis Kebijakan Pertanian, Vol. 15 (1): 83-98.
Zahra Nur Amirah, M. P. (2015). ANALISIS RANTAI PASOK DAGING SAPI DARI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN CIAWITALI SAMPAI KONSUMEN AKHIR. Analisis Rantai Pasok Daging Sapi. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.


Comments

Popular posts from this blog

#2 GALI IDE USAHA MU

Hayyy temen-temen ehehe, ada bab selanjutnya nih yang bakal aku bahas. Beberapa analisa yang dapat mempermudah kalian untuk menjadi pengusaha muda, mandiri, dan sukses. Di simak lagi yaaa! Pertama. Analisa Pros-Cons (Aspek Positif dan Aspek Negatif) Yang dimaksud yaitu suatu cara untuk menilai apakah ide usaha yang diusulkan layak untuk dijalankan atau tidak. Caranya adalah dengan membandingkan dari aspek positif dan aspek negatifnya. Analisa ini digunakan untuk menentukan satu ide usaha dari beberapa ide dan akan kita nilai mana yang paling baik. Dalam memilah aspek positif dan negatifnya kita perlu mendata beberapa informasi yang ada, antara lain: 1) Keahlian yang dimiliki pengusaha untuk menjalankan usaha, artinya ada berbagai hal yang dikuasai untuk mendukung usaha yang dijalankan. Contohnya kemampuan memasak, menggambar, mengoperasikan komputer, dan atau keterampilan lainnya. 2) Ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan, artinya pengusaha harus mengetahui bahan baku yan...
Sistem & Manajemen Agribisnis Peternakan Agribisnis pada mulanya diartikan secara sempit, yaitu menyangkut subsektor masukan (input) dan subsektor produksi (on farm). Pada perkembangan selanjutnya agribisnis didefinisikan secara luas dan tidak hanya menyangkut subsektor masukan dan produksi tetapi juga menyangkut subsektor pascaproduksi, meliputi pemrosesan, penyebaran, dan penjualan produk. Dengan demikian agribisnis peternakan merupakan kegiatan usaha yang terkait dengan subsektor peternakan, mulai dari penyediaan sarana produksi, proses produksi (budidaya), penanganan pasca panen, pengolahan, sampai pemasaran produk ke konsumen. Dalam subsektor peternakan, subsistem hulu meliputi industri bibit ternak, pakan ternak, obat-obatan dan vaksin ternak, serta alat-alat dan mesin peternakan (alsinnak). Berdasarkan jenis outputnya, subsistem usahatani dapat digolongkan menjadi usaha ternak perah, usaha ternak potong/pedaging, usaha ayam petelur, dan lain-lain. Subsist...

Peran Agribisnis dalam Perekonomian Nasional

Kontribusi sektor agribisnis dalam perekonomian dapat diukur dengan berbagai indikator seperti kontribusinya dalam pembentukan GDP, kesempatan kerja, dan perdagangan internasional. Disamping itu peranannya juga dapat dilihat dari kontribusinya dalam pembangunan ekonomi daerah, ketahanan pangan nasional dan pelestarian lingkungan hidup.  Peran tersebut  diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 17 tahun 2007 tentang RPJPN tahun 2005-2025, menyatakan bahwa visi pembangunan nasional tahun 2005-2025 adalah: Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur. Untuk mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut ditempuh melalui delapan misi yang mencakup: (1) mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila, (2) mewujudkan bangsa yang berdaya saing, (3) mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum, (4) mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu, (5) mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan, (6) mewujudkan Ind...